Mengantisipasi Ancaman El Nino

6 08 2009

.:Kutipan berita Metro TV:.

Dua tahun terakhir, satu hal yang paling pantas kita syukuri adalah musim kemarau basah yang selalu kita alami. Dengan musim kemarau basah itu, maka para petani bisa terus menjalankan proses tanam menanam dan hasilnya, produksi pertanian kita, khususnya tanaman pangan, mengalami peningkatan yang signifikan.

Itulah yang membuat pemerintah sesumbar untuk bisa melakukan ekspor beras. Bahkan tidak hanya itu, dengan produksi pertanian yang baik, pertumbuhan ekonomi kita bisa terus tumbuh positif di tengah krisis ekonomi global yang menerpa. Kita bisa berkonsentrasi untuk melakukan kegiatan yang produktif,
karena kebutuhan pokok masyarakat bisa terpenuhi dengan harga yang relatif stabil.

Kita tentunya tidak menutup fakta bahwa ada perbaikan dari sisi pembibitan yang menopang peningkatan produksi. Namun untuk sarana produksi pertanian yang lain, perbaikannya tidak cukup signifikan. Pupuk misalnya, kadang masih sulit didapatkan petani di pasaran. Saluran irigasi hanya diperbaiki pada tingkat yang minor. Kebanyakan saluran irigasi primer dan sekunder di daerah-daerah produksi pertanian masih dalam keadaan rusak. Konversi lahan pertanian pun terus berlangsung tanpa bisa dikendalikan.

Kalau kemudian produksi pertanian bisa meningkatkan secara signifikan, kita pantas bersyukur terhadap musim yang begitu bersahabat dalam dua tahun terakhir. Musim kemarau basah membuat petani nyaris tidak perlu berhenti untuk berproduksi. Apabila biasanya hanya dua kali tanam dalam setahun bisa
dilakukan penanaman, maka selama dua tahun lalu petani bisa menanam lebih tiga kali.

Tahun ini sepertinya keberuntungan itu tidak lagi bisa dirasakan. Musim kemarau kali ini bukanlah musim kering basah. Bahkan mulai dikhawatirkan musim kemarau yang kering kali ini akan berlangsung lebih panjang.

Fakta-fakta itu mulai dirasakan di banyak tempat. Danau-danau mulai mengering. Sungai-sungai pun mengalirkan debet yang lebih rendah. Banyak petani mulai terganggu proses produksinya. Mereka tidak bisa lagi bertanam, karena memang air yang dibutuhkan tidak tersedia.

Sepantasnya apabila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan ancaman musim yang harus kita hadapi. Fenomena El Nino tampaknya harus kita alami dan ini pengaruhnya akan signifikan terhadap produksi pertanian, khususnya tanaman pangan.

Tantangan seperti ini bukanlah pertama kali kita alami. Beberapa tahun sebelumnya kita pernah merasakan dampak buruk dari pengaruh El Nino, yang membuat kekeringan terjadi di mana-mana dan produksi pertanian menurun secara tajam. Kita masih ingat bagaimana pemerintah kemudian terpaksa mengimpor beras, untuk menutupi kekurangan kebutuhan pangan.

Kali ini kita tidak ingin mengalami kesulitan yang sama. Meski ancaman El Nino akan di depan mata, pemerintah berharap kita tidak sampai harus kekurangan pangan, apalagi harus mengimpor.

Di sini dibutuhkan manajemen pengelolaan pangan yang lebih baik. Manajemen pengelolaan pangan bukan hanya terletak pada proses produksi, tetapi juga penanganan yang baik pascaproduksi. Harus ada satu kesatuan pengelolaan pangan nasional, agar kita bisa mengendalikan pasokan dan permintaan. Lebih dari itu kita juga lebih efektif dalam menyimpan beras saat produksi berlimpah dan mengeluarkannya ketika produksi berkurang.

Satu hal lagi yang seringkali tidak kita perhatikan adalah soal diversifikasi pangan. Meski berulangkali disampaikan agar mengurangi ketergantungan bangsa ini terhadap beras, namun dalam realisasinya tetap saja beras menjadi bahan makanan utama dari Sabang sampai Merauke. Padahal kalau kita mau lebih serius menanganinya, begitu banyak bahan makanan lain yang tersedia di negeri ini, namun tidak pernah disosialisasikan seperti jagung, sagu, dan banyak bahan makanan yang lain.

Semua ini tidak bisa dilepaskan dari kenikmatan yang kita rasakan selama ini. Dengan musim yang begitu bersahabat, akhirnya kita tidak peka terhadap alam. Bandingkan dengan bangsa yang hidup di empat musim. Mereka harus terus berjuang sepanjang tahun agar bisa bertahan dan mendapatkan pasokan pangan yang mencukupi untuk bisa hidup sepanjang tahun.

Akibatnya, bangsa yang hidup di empat musim lebih kreatif dan tidak pernah berhenti untuk mencari inovasi. Mereka sangat sadar, kegagalan untuk bisa menemukan teknologi yang lebih baru akan membuat mereka menjadi korban dari musim.

Sejak terjadinya perubahan iklim akibat pemanasan global, sebenarnya “kenikmatan” yang kita miliki sudah jauh berkurang. Itu bisa terasa dari perubahan musim hujan dan musim kemarau, yang tidak sesuai dengan siklus Oktober-Maret dan Maret-Oktober seperti yang dulu kita kenal. Perubahan iklim yang ekstrem memang dirasakan seluruh umat di dunia. Tidak ada satu pun negara yang bisa terhindar dari perubahan iklim yang ekstrem tersebut.

Di sinilah sebenarnya tugas terberat yang harus kita lakukan. Bagaimana membangun kesadaran kita bersama bahwa yang namanya El Nino, musim kemarau kering yang panjang maupun El Nina, musim hujan yang tinggi intensitasnya, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita. Itu bukan hanya sesuatu yang sesekali saja terjadi. Ke depan itu merupakan siklus yang akan datang setiap saat.

Jujur saja kita tidak pernah terlalu memedulikan persoalan perubahan iklim. Banyaknya persoalan lain yang harus kita hadapi baik masalah politik, ekonomi, sosial, keamanan, membuat masalah lingkungan tidak terperhatikan.

Padahal sering kita ingatkan bahwa semua negara mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi “Tantangan 80:20”. Setiap negara mempunyai tanggung jawab untuk menekan emisi gas buang dalam bentuk CO2 hingga 80 persen dalam 20 tahun yang akan datang. Semua ini ditujukan untuk mendinginkan Bumi yang sudah terlalu panas akibat pemanasan global, sehingga mengakibatkan perubahan iklim yang sangat ekstrem.

Untuk itu memang dibutuhkan visi yang lebih panjang dari bangsa ini dalam mengadaptasi perubahan iklim global. Itu tidak bisa lagi dengan cara-cara yang biasa, apalagi dengan cara melihat persoalan hanya dari tahun ke tahun. Persoalan pangan akibat perubahan iklim bukan hanya harus kita hadapi tahun ini, tetapi merupakan tantangan yang abadi untuk masa-masa mendatang.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: